Tips Mengelola Keuangan Untuk UMKM Bersama Ibu Berbagi Bijak 2019



Saat beberapa bulan lalu dihubungi oleh Teh Ipeh dari The Urban Mama untuk berpartisipasi dalam workshop #IbuBerbagiBijak persembahan VISA dan OJK saya tidak perlu waktu lama untuk menyatakan “Yes, I’m In!” sepertinya ini akan menjadi ilmu yang bermanfaat ditengah kesibukan baru saya sebagai WAHM (Work at Home Mom) yang mencoba mulai berbisnis dari rumah.

 

Betul saja, begitu poster acara dibagikan senyum saya langsung mengembang melihat narasumber yang akan berbagi ditengah- tengah kita para audience, yaitu Mba PritaGhozie dari ZAP Finance yang sudah terkenal akan kiat- kiat jitunya dalam mengelola keuangan atau financial planning.

 





Rabu, 28 Agustus 2019 kemarin akhirnya saya dapat berkumpul bersama puluhan Ibu lainnya yang sama- sama memiliki bisnis UMKM dan juga membawa semangat besar ingin memetik ilmu langsung dari ahlinya. Acara dipandu oleh Anggia Bonyta sebagai MC dan kemudian dibuka oleh Bapak Riko Abdurrahman, selaku Presiden Direktur PT VISA Worldwide Indonesia. Beliau mengemukakan fakta bahwa kemampuan wanita untuk mengelola keuangan ternyata hanya sebesar 20% padahal harusnya Ibu- lah yang berperan penting sebagai Menteri Keuangan dalam keluarga apalagi apabila dibarengi juga dengan mengelola bisnis rumahan. Maka dari itu VISA memiliki program Ibu Berbagi Bijak dengan tujuan untuk mengedukasi para Ibu agar dapat mempunyai literasi keuangan yang lebih baik.

 

Masuk ke sesi yang ditunggu- tunggu yaitu Tips Mengelola Keuangan UMKM Bersama Mba Prita Ghozie. Saat ditanya “Siapa saja disini yang punya bisnis?” sontak hamper semua peserta mengangkat tangan tinggi- tinggi termasuk saya. Begitu ditanya pertanyaan selanjutnya “Ibu- ibu punya busi-ness atau hanya busy-ness?” Wah, disitu saya ngahuleung. Hehehehe. Betul juga apakah yang selama ini saya kerjakan itu benar- benar usaha yang sehat dan memiliki arus kas dan profit yang jelas atau kah hanya sekedar mengisi waktu supaya kita kelihatan (keren dan) sibuk? Ini menarik.

 





Sebagai seorang wirausaha atau bias dikatakan memiliki bisnis UMKM, ada baiknya kita harus memahami beberapa poin dasar. Pertama, pahami modal dan kebutuhan dasar. Ternyata untuk pos modal saja dibagi menjadi modal investasi awal, modal kerja operasional dan biaya tetap. Modal investasi awal misalnya property usaha, fasilitas pendukung operasional, dan juga biaya training tenaga kerja/ karyawan. Sedangkan modal kerja operasional untuk memfasilitasi belanja atau harga pokok produk dan barang pendukung lainnya. Biaya tetap misalnya biaya internet, telepon, listrik, air, gaji pegawai dan juga pemasaran.

 

Nah, darimana sih modal ini berasal? Sumber pendanaan juga ada berbagai sumber yakni pinjaman dan juga dana sendiri. Adapun perluasan usaha seperti buka cabang atau franchise dapat menjadi salah satu alternatif sumber pendanaan. Untuk yang berminat meminjam dana dipastikan untuk bijak memilih Lembaga keuangan yang terverifikasi ya. Jangan sampai salah langkah apalagi tergiur untuk meminjam ke fintech / pinjaman online bodong. Seputar fintech kita bahas lebih lanjut setelah ini ya.

 

Satu hal lagi yang ditekankan oleh Mba Prita bahwa kita sebagai pelaku usaha harus concern sekali dengan Arus Kas Usaha. Jangan sampai besar pasak daripada tiang alias lebih gede pengeluaran disbanding pemasukan. Apakah bisnis kita profit, loss atau break even alias plus plos? Cara mengukurnya tentu saja menggunakan Financial Analysis, dimana keuntungan, kerugian ataupun impas dapat dianalisa berdasarkan laporan keuangan, neraca, laporan rugi laba, dan pencatatan arus kas yang jelas dan terukur. Semuanya harus tercatat rapi dalam laporan keuangan bulanan ataupun tahunan. Seringkali kita sebagai emak- emak jaman now hanya mengandalkan Feeling Analysis dimana mengira- ngira saja dengan keyakinan “kayaknya saya sudah untung deh” padahal ya belum tentu.



 

Merasa tertohok, kadang saya juga masih menggunakan Feeling Analysis disbanding Financial Analysis, maka dari itu kita kudu melakukan financial check up secara berkala plus mengelola arus kas dan merencanakan keuangan dengan matang. Workshop kemarin, audience diberikan kisi- kisi dari Mba Prita yaitu rumus ZAPFIN.

 

Z – Zakat

A – Assurance

P – Preset Consumption/ Kebutuhan Rutin

F – Future Spending / Menabung dan Spending kemudian

In – Investment/ investasi



 

Sesi selanjutnya ialah mengenai Fintech. Singkatan dari Financial Technology dimana artinya adalah sebuah inovasi dalam bidang jasa keuangan. Inovasi yang ditawarkan Fintech sangat luas misalnya proses jual beli saham, pembayaran, investasi ritel hingga yang sedang marak diberitakan saat ini ialah fungsi peminjaman uang (lending). Bapak Teguh Rahayu selaku Kepala Bagian Edukasi & Perlindungan Konsumen OJK Regional Jawa Barat berpesan untuk selalu waspada dengan munculnya berbagai start-up abal berkedok Fintech yang tidak terdaftar resmi di OJK. Sehingga apabila kita menemukan kendala dengan Fintech illegal, kita tidak bias mengadukan kepada OJK, terjerat bunga dan denda yang melambung serta Fintech tersebut dapat mengakses kontak orang terdekat kita juga melakukan aksi terror untuk menagih pelanggannya.

 






Maka dari itu apabila kita melihat Fintech yang mencurigakan, ingin membuat laporan atau sekedar ingin mendapatkan info yang valid bisa langsung menghubungi contact center konsumen jasa keuangan resmi dari OJK dengan nomer layanan 157. Wah, ternyata event Workshop #IBuBerbagiBijak2019 ini membawa banyak manfaat terutama bagi UMKM yang ingin mengelola keuangan menjadi lebih aman dan nyaman. Terima kasih VISA Indonesia, OJK Jawa Barat dan juga The Urban Mama. Sampai bertemu di event selanjutnya!

Related Posts